Selasa, Desember 03, 2013

Ngaku Muslim, Seharusnya Tidak Korupsi


           Manusia memang diciptakan hakikatnya selalu merasa tak puas dengan sesuatu yang sudah dimiliki. Tidak menampik. Selalu merasa kekurangan. Berkecukupan tetapi seakan masih dalam keterpurukan. Jabatan selalu menjadi hal yang mengagumkan. Munafik, bila bertutur tidak dalam perkataan. Segala macam cara mencoba dilakukan. Termasuk menjalankan beragam proyek menguntungkan.  
Salah satunya dari sekian banyak, proyek pembangunan negara, berciri khas pengajuan dana hingga ratusan, milyaran bahkan trilyunan. Terlebih mendekati pemilihan umum. Namun, tidak sebanding dengan hasil dinikmati masyarakat luas. Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan ( PPATK ) mengungkapkan bahwa transaksi perbankan tunai yang mencurigakan meningkat 125 persen menjelang Pemilu 2014 maupun sejumlah pemilihan kepala daerah ( pilkada ). Temuan berdasarkan penelitian yang dilakukan selama 2005 hingga 2012 lalu. Penelitian difokuskan terhadap caleg atau calon kepala daerah yang namanya pernah dilaporkan memiliki transaksi mencurigakan.
Ditambah, masih menjadi perbincangan hangat bahwa akan adanya kebijakan pemerintah pusat mobil murah yang berembel untuk rakyat. Hal demikian menjadi timbulnya pro kontra dari beragam kalangan. Utamanya kalangan menengah ke bawah. Tentunya sudah kerapkali tidak merasakan imbas yang beralasan dari, untuk dan oleh rakyat. Yang dibutuhkan oleh masyarakat adalah transportasi yang nyaman, aman, dan murah. Transportasi disediakan oleh pemerintah. Dengan demikian, persoalan polusi udara maupun kemacetan lalu lintas dapat diminimalkan. Diprediksi kebijakan mobil murah hanya akan membuat jalan-jalan di kota besar semakin padat merayap sehingga sangat bertentangan dengan upaya pembenahan kemacetan di Jakarta. Apalagi hadirnya mobil murah tersebut sebagai akibat pembebasan pajak PPnBM untuk mobil. Mobil murah akan menyedot banyak BBM ( Bahan Bakar Minyak ) yang notabene disubsidi oleh negara dan akan semakin membebani anggaran.
Belum lagi, permasalahan yang prioritas pula dengan angka kecelakaan terus saja semakin meningkat khususnya di lingkungan perkotaan besar. Lebih dari 27 ribu jiwa melayang dan diatas angka 72 persen mayoritas pengguna sepeda motor. Kerugian sosial akibat kecelakaan dan buruknya transportasi publik mencapai 217 triliun pertahun.
Tanda tanya besar kembali mencuat ke permukaan. Lagi – lagi anggaran kembali dikeluarkan. Pemerintah memperbanyak mobil pribadi. Mobil dinas pun dipergunakan untuk kepentingan pribadi. Sementara, bukti laporan keuangan dianggap jelas dan bahkan mendapatkan penghargaan ketujuh kalinya sebagai Wajar Tanpa Pengecualian ( WTP ). Akan tetapi, dinilai tranparansi estimasi anggaran belum memenuhi kriteria kerakyatan.
Kasus Korupsi, Kolusi dan Nepotisme pun berkepanjangan tanpa usai. Para koruptor menikmati fasilitas nan mewah laksana istana di dalam penjara. Justru, rakyat dibebani dengan beragam melambungnya harga berbagai kebutuhan dan menikmati kesengsaraan kemiskinan bukan kesejahteraan. Tapi, sama saja, ketika menjadi rakyat kecil, berada di bawah, seolah berpikir akan kesejahteraan dan perubahan. Namun, jikalau jabatan dalam genggaman, memperkaya diri. Dibutakan oleh materi duniawi. Sebenarnya mengambil hak orang lain, bagi yang beragama Islam sudah melanggar perintahNya. Telah dituliskan dalam QS. Al Maidah ayat 38 bahwa “ Laki-laki yang mencuri dan perempuan yang mencuri, potonglah tangan keduanya ( sebaga i) pembalasan bagi apa yang mereka kerjakan dan sebagai siksaan dari Allah. Dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana. Secara tersirat, Korupsi, Kolusi dan Nepotisme diartikan mencuri karena merampas hak yang bukan miliknya. Baik secara sembunyi – sembunyi ataupun terang – terangan.
Tak jarang pula, masyarakat yang dikategorikan mampu, iri dan bahkan berebut hak warga miskin. Mengumpulkan materi bukan haknya dengan penuh kebanggaan. Pamer dan riya akan materi pribadi. Iri dapat dikatakan syirik karena sama saja tidak mempercayai adanya Allah SWT. Syirik telah diriwayatkan dalam QS. An Nisa ayat 48 berisi “ Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni segala dosa selain ( syirik ) itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa mempersekutukan Allah, maka ia sungguh telah berbuat dosa yang besar. ”  Sementara, kata riya’ diambil dari kata ru’yah dan yang dimaksud adalah menampakkan amal sholeh atau ibadah kepada orang - orang dengan tujuan agar mendapat pujian atau dilihat manusia agar memuji pelakunya. Riya tidak disukai olehNya karena sudah tertulis jelas dalam QS. Al Kahfi ayat 110 yaitu “ Katakanlah: “ Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “ Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa ”. Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya. ”
Mengaku generasi muslim tapi tak segan melakukan itu semua tanpa merasa bersalah dan seolah dibenarkan perilakunya. Setiap hari menjalankan perintahNya dan memahami isiNya namun tetap saja dijalankan. Sumpah serapah seakan hanya menjadi permainan. Ngaku Muslim, Seharusnya Tidak Korupsi.
Presented by Ayu Yulia Yang
Website resmi Nahdlatul Ulama, www.nu.or.id

Tidak ada komentar:

Posting Komentar